I. METODE
PENERJEMAHAN
Terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, setiap
pakar penerjemah mengelompokkan penerjemahan-penerjemahan dibawah ini kedalam
jenis, metode atau teknik. Peneliti, dalam hal ini, mengadopsi penapat Newmark
(1988) dalam pengelompokkan metode penerjemahan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia istilah metode diartikan sebagai cara yang teratur yang digunakan
untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang
dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan
guna mencapai tujuan yang ditentukan (2005:740).
Berkaitan dengan batasan istilah metode
penerjemahan, Molina dan Albir (2002:507) menyatakan bahwa “Translation
method refers to the way of a particular translation process that is carried
out in terms of the translator’s objective, I’e., a global option that affects
the whole texts”, dari bahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode
penerjemahan lebih cenderung pada sebuah cara yang digunakan oleh penerjemah
dalam proses penerjemahan sesuai dengan tujuannya, misalnya sebuah opsi global
penerjemah yang mempengaruhi keseluruhan teks. Jadi metode penerjemahan sangat
mempengaruhi hasil terjemahan. Artinya hasil penerjemhan teks sangat ditentukan
oleh metode penerjemah karena maksud, tujuan dan kehendak penerjemah akan
berpengaruh terhadap hasil terjemahan teks secara keseluruhan.
1. Penerjemahan kata demi kata
Dalam meode penerjemahan kata demi kata (word-for-word
translation), biasanya kata-kata Tsa langsung diletakan dibawah versi Tsu atau
disebut dengan interlinear translation. Metode penerjemahan ini sangat terikat
pada tataran kata Bsu dalam Bsa. Susunan kata dalam kalimat penerjemahan sama
persis dengan susunan kata dalam kalimat Bsu. Setiap kata diterjemahkan satu
satu berdasarkan makna umum diluar konteks, sedangkan kata-kata yang berkaitan
dengan budaya diterjemahkan secara harfiah. Umumnya metode ini digunakan pada
tahapan prapenerjemahan pada saat penerjemah menerjemahkan teks yang sukar atau
untuk memahami mekanisme Bsu. Jadi metode ini digunakan pada tahap analisis
atau tahap awal pengalihan. Biasanya metode ini digunakan untuk penerjemahan
tujuan khusus, namun tidak lazim digunakan untuk penerjemahan yang umum.
Berikut adalah beberapa contoh hasil terjemahan yang
menggunakan contoh metode penerjemahan kata demi kata:
1. Tsu : look, little guy, you-all ahouldn’tbe
doing that.
Tsa : lihat, kecil anak, kamu semua harus tidak
melakukan ini.
Berdasarkan hasil penerjemahan tersebut, kalimat Tsu
yang dihasilkan sangatlah rancu dan janggal karena susunan frase ‘kecil anak’
itu kuarang tepat. Seharusnya kedua frase tersebut menjadi ‘anak kecil’.
Sehinnga alternative terjemahan dari kalimat tersebut menjadi: ‘Lihat, anak
kecil, kamu semua seharusnya tidak melakukan itu.’
2. Penerjemahan Harfiah
Penerjemahan harfiah atau disebut juga penerjemahan
lurus berada diantara penerjemahan kata demi kata dan penerjemahan bebas. Dalam
proses penerjemahannya, penerjemah mencari konstruksi gramatikal Bsu yang
sepadan atau dekat dengan Bsa. Penerjemhan harfiah ini terlepas dari konteks.
Penerjemahan ini mila-mula dilakukan seperti penerjemahan kata demi kata,
tetapi penerjemah kemudian menyesuaikan susunan kata-katanya sesuai dengan
gramatikal Bsa. Perhatikan beberapa contoh berikut ini:
1. Tsu : look, little guy, you-all shouldn’t be
doing that.
Tsa : lihat, anak kecil, kamu seharusnya tidak
berbuat seperti itu.
2. Tsu : it’s raining cats and dogs.
Tsa : hujan kucing dan anjing.
3. Tsu : his hearth is in the right place.
Tsa : hatinya berada ditempat yang benar.
4. Tsu : the sooner or the later the weather
will change.
Tsa : lebih cepat atau lebih lambat cuaca akan
berubah.
Jika dilihat dari hasil terjemahannya, beberapa
kalimat-kalimat yang diterjemahkan secara harfiah masih terasa janggal,
misalnya kalimat ke-2 sebaiknya diterjemahkan “hujan lebat” atau “hujan deras”.
Kalimat ke-3 seharusnya menjadi “hatinya tentram”. Namun jika demikian hasil
terjemahannya, memang lebih condong pada penerjemahan bebas. Demikian pula
dengan kalimat ke-4 sebaiknya diterjemahkan menjadi “cepat atau lambat cuacanya
akan berubah.”
3. Penerjemahan Setia
Dalam penerjemahan setia penerjemah berupaya
memproduksi makna kontekstual dari teks asli dengan tepat dalam batasan-batasan
struktur gramatikal teks sasaran. Disini kata-kata yang bermuatan budaya
diterjemahkan, tetapi penyimpangan tata bahasa dan pilihan kata masih tetap ada
atau dibiarkan. Penerjemahan ini berpegang teguh pada maksud dan tujuan Tsu,
sehinnga hasil terjemahan kadang-kadang masih terasa kaku dan seringkali asing.
Perhatikan contoh berikut ini:
1. Tsu : Ben is too well aware that he is
naughty.
Tsa : Ben menyadari terlalu baik bahwa ia nakal.
2. Tsu : I have quite a few friends.
Tsa : saya mempunyai samasekali tidak banyak teman.
4. Penerjemahan Semantis
Penerjemahan semantic lebih luwes daripada
penerjemahan setia. Penerjemahan setia lebih kaku dan tidak kompromi dengan
kaidah Bsa atau lebih terikat dengan Bsu, sedangkan penerjemahan semantic lebih
flexible dengan Bsa. Berbeda dengan penerjemahan setia, penerjemahan semantic
harus mempertimbangkan unsure estetika teks Bsu dengan cara mengkompromikan
makna selama masih dalam batas kewajaran. Perhatikan contoh berikut ini:
Tsu : he is a book worm.
Tsa : dia adalah seorang yang suka sekali membaca.
Frase book worm diterjemahkan secara flexible sesuai
dengan konteks budaya dan batasan fungsional yang berterima dalam Bsa. Tetapi
terjemahan di atas kurang tepat dan seharusnya diterjemahkan menjadi: ‘dia
seorang kutu buku’.
5. Adaptasi (saduran)
Adaptasi ale Newmark (1988:46) disebut dengan metode
penerjemahan yang paling bebas dan paling dekat engan Bsa. Istilah ‘saduran’
dapat diterima disini, aslakan penyadurannya tidak mengorbankan tema, karakter
atau alur dalam Tsu. Memang penerjemahan adaptasi ini banyak digunakan untuk
menerjemahkan puisi dan drama. Disini terjadi peralihan budaya Bsa ke Bsu dan
teks asli ditulis kembali serta diadaptasikan kedalam Tsa. Berikut adlah contoh
lirik lagu dari sebuah yang disadur dari bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia:
Tsu : hey Jude, don’t make it bsd
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make is better
Tsa : kasih, dimanakah
Mengapa kau tinggalkan aku
Ingatlah-ingatlah kau padaku
Janji setiamu takan ku lupa
6. Penerjemahan Bebas
Penerjemahan bebas merupakan penerjemahan yang lebih
mengutamakan isi dari pada bentuk teks Bsu. Biasanya metode ini berbentuk
paraphrase yang lebih panjang daripada bentuk aslinya, dimaksudkan agar isi
atau pesan lebih jelas diterima oleh pengguna Bsa. Terjemahannya bersifat
berteletele dan panjang lebar, bahkan hasil terjemahannya tampak seperti bukan
terjemahan. Seperti contoh berikut:
1. Tsu : the
flowers in the garden.
Tsa : bunga-bunga yang tumbuh dikebun
2. Tsu : how
they live on what he makes?
Tsa : bagaimana mereka dapat hidup dengan
penghasilannya?
Dalam contoh nomor 1 terjadi pergeseran yang disebut
dengan shint up, karens dari frase preposisi in the garden menjadi klausa ‘yang
tumbyh dikebun’. Sedangkan pada nomor 2 terjadi pergeseran yang disebut dengan
shunt down, karena klausa on what he makes menjadifrase ‘dengan
penghasilannya’.
7. Penerjemahan Idiomatik
Larson dalam Choliludin (2006:23) mengatakan bahwa
terjemahan idiomatic menggunakan bentuk alamiah dalam teks Bsa-nya, sesuai
denga konstruksi gramatikalnya dan pilihan leksikalnya. Terjemahan yang
benar-benar idiomatic tidak tampak seperti hasil terjemahan. Hasil
terjemahannya seolah-olah tidak tampak seperti hasil tulisan langsung dari
penutur asli. Maka seorang penerjemah yang baik akan mencoba menerjemahkan teks
secara idiomatic. Nemark (1988:47) menambahkan bahwa penerjemahan idiomatic
memproduksi pesan dalam teks Bsa dengan ungkapan yang lebih alamiah dan akrab
dari teks Bsu.
Choliludin (2006:222-225) member beberapa contoh
terjemahan idiomatic sebagai berikut:
1. Tsu : Salina!
Excusme, Salina!
Tsa : Salina! Permisi, Salina!
2. Tsu : I can
relate to that.
Tsa : aku mengerti maksudnya.
8. Penerjemahan Komunikatif
Menurut Newmark (1988:47) penerjemahan komunikatif
berupaya untuk menerjemahkan makna kontekstual dalam teks Bsu, baik aspek
kebahasaan maupun aspek isinya, agar dapat diterima dan dimengerti oleh
pembaca. Machali (200:55) menambahkan bahwa metode ini memperhatikan
prinsip-prinsip komunikasi, yaitu mimbar pembaca dan tujuan penerjemahan.
Contoh dari penerjemahan ini adalah penerjemahan kata spine dalam frase thorns
spines in hold reef sediments. Jika kata tersebut diterjemahkan oleh seorang
ahli biologi, maka padanannya adalah spina, tetapi jika diterjemahkan untuk
mimbar pembaca yang lebih umum maka kata itu diterjemahkan menjadi ‘duri’.
Berdasarkan pengamatan peneliti, setiap penerjemah
memiliki gaya masing-masing dalam menerjemahkan suatu karya. Gaya yang dia
pakai akan sangat berkaitan erat misalnya, dengan metode penerjemahan yang dia
lakukan. Diantara para penerjemah ada yang menggunakan metode penerjemahan
setia, seperti yang telah dilakukan oleh penerjemah novel Harry Potter and the
Phylosoper’s Stone. Alasannya adalah bahwa ia tidak mau melepaskan makna
kontekstual dalam Tsu-nya. Dia berusaha mempertahankan istilah-istilah yang
berkaitan dengan sosio-budaya dan latar dari Bsu, misalnya mempertahankan kata
Mr dan Mrs serta nama-nama dari para karakter dalam novel itu. Dia tidak
melakukan suatu adaptasi atau domestikasi tetapi mempertahankan ideology
forensisasinya. Ini dilakukan demi menjaga keaslian unsur-unsur cerita dan
nilai-nilai budaya yang melatari cerita tersebut sehingga pembaca diajak untuk
mengenali tema, karakter, latar dan atmosfer budaya asing. Para penerjemah
novel lainnya masing-masing berbeda dalam memilih metode penerjemahan.
Diantaranya ada yang menggunakan penerjemahan bebas, semantis, idiomatik, dan
adaptasi. Hal tersebut dilakukan bergantung kepada kebiasaan serta gaya yang
menjadi ciri khas mereka. Mungkin pula bergantung pada tujuan penerjemahan itu
sendiri.
II. TEKNIK PENERJEMAHAN (lanjutan)
Berdasarkan KBBI (2005:1158) teknik adalah cara
membuat atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni. Bagaimana
hubungannya dengan teknik menerjemahkan? Berdasrkan definisi KBBI, teknik itu
berbeda dengan metode dan prosedur. Sudah dikatakan dalam bahasan sebelumnya,
metode penerjemahan mempengaruhi keseluruhan teks hasil penerjemahan, prosedur
meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, sedangkan teknik adalah cara
praktis untuk menganalisis dan mengklasifikasi bagaimana proses pencarian padanan
itu dilakukan. Dalam hal ini Molina dan Hurtado Albir menjelaskan lima
karakteristik dasar dari teknik penerjemahan:
1. Teknik penerjemahan berpengaruh tehadap hasil
terjemahan.
2. Teknik penerjemahan membandingkan Bsu dengan Bsa.
3. Teknik penerjemahan berpengaruh terhadap
satuan-satuan teks terkecil, misalnya kata, frase, dan kalimat.
4. Teknik penerjemahan nersifat diskursif alamiah
dan kontekstual.
5. Teknik penerjemahan itu fungsional.
Walaupun demikian teknik-teknk penerjemahan itu
bukanlah satu-satunya sebagai serentetan kategori yang tersedia untuk
menganalisis teks terjemahan, karena masih ada kategori-kategori alternative
lainnya yang dapat mempengaruhi roses analisis dalam penerjemahan, misalnya
koherensi, kohesi, progresi tematik dan dimensi-dimensi kontekstual lainnya.
Teknik-teknik penerjemahan yang digunakan dalam
penelitian ini diambil dari pendapat Molina dan Hurtado Albir (2002:508-511)
dengan klasifikasi sebagai berikut:
1. Adaptation
Adaptasi sebagai metode penerjemahan menurut Newmark
berbeda dengan adaptasi sebagai teknik penerjemahan menurut Molina dan Hurtado
Albir (2002:509). Adaptasi sebagai metode mengarah kepada penerjemahan yang
menghasilkan keseluruhan teks menjadi sebuah saduran, sedangkan adaptasi
sebagai teknik lebih cenderung kepada upaya mengganti sebuah unsure cultural
dalam Tsu dengan sebuah unsure cultural dalam Tsu dengan sebuah unsure cultural
yang sesuai dengan pengguna Bsa atau unsure budaya sasaran, contohnya mengganti
kata bhas Inggris baseball dengan kata bahasa Spanyol futbal. Konsep adaptasi
diatas selaras dengan pendapat Vinay dan Darbelnet (1977) dan Margot (1979).
Jadi teknik adaptasi belum tentu mengubah seluruh teks menjadi sebuah saduran,
karena teknik ini hanya menerjemahkan unsure-unsur teks saja, kecuali memang
semua unsure dalam teks diadaptasi secara keseluruhan. Kalau dalam terjemahan
Inggris ke Indonesia kita menjumpai terjemahan frase Dear sir menjadi yang
terhormat atau frase Sincerely yours diterjemahkan menjadi ‘hormat saya’.
Teknik penerjemahan ini disesuaikan dengan budaya sasaran dalam bahasa
Indonesia.
2. Amplification
Teknik amplifikasi memperkenalkan suatu penjelasan
rinci dalam Tsa yang tidak terdapat dalam Tsu, misalnya untuk menerjemahkan
nomina bahasa Arab Ramadhan ke dalam baha Inggris perlu diberi deskripsi the
Muslim month of fasting agar pembaca Tsu lebih paham dan jelas, sehingga
diterjemahkan menjadi Ramadhan, the Muslim month of fasting. Teknik ini sama
dengan explicitation-nya Margot, dan paraphrase-nya.
Jika ditinjau dari kasusnya, tampaknya amplifikasi
itu hamper sama dengan addition Delisle dan Pharapase-nya Newmark. Nida dalam
Molina dan Hurtado Albir (2002:502) menyatakan bahwa teknik penambahan
dilakukan untuk mengklarifikasi sebuah ekspresi ellipsis, menghindari ketaksaan
atau ambiguitas, menambah konektor. Berikut adalah beberapa contoh teknik
penambahan:
Tsu : employees of all industries took part in
the conference.
Tsa : karyawan-karyawan dari semua cabang industry
mengambil bagian dalam konferensi tersebut.
Terdapat penambahan kata cabang untuk memperjelas
industry.
Adapun Newmark (1980:90) mengelompokan paraphrase
kedalam prosedur penerjemahan yang menyebutkan bahwa paraphrase adalah
penjelasan tambahan makna dari sebush segmen teks karena segmen tersebut
mengandung makna yang tersirat atau hilang, sehingga perlu dijelaskan atau
diparafrase sehingga menjadi lebih jelas. Paraphrase menurut Crystal
(1985:220-221) adalah “the result or process of producing alternative
versions af a sentence or a text without changing the meaning.” Paraphrase
adlah hasil atau proses memproduksi beberapa versi alternative dari sebuah
kalimat atau teks. Misalnya sebuah kalimat aktif dapat diparafrase menjadi
kalimat pasif sebagai sebuah versi kalimat alternative hasil dari proses
reproduksi. Perhatikan contoh berikut:
Tsu : the dog is eating a bone.
Dapat diterjemahkan menjadi:
Tsa : sepotong tulang sedang dimakan oleh anjing
itu.
3. Borrowing
Pinjaman menurut Molina dan Hurtado Albir (2002:510)
adalah teknik penerjemahan dengan cara mengambil kata atau ungkapan langsung
dari bahasa lain. Biasanya kata atau ugkapan yang diambil itu murni, misalnya
kata bahas Inggris lobby dalam teks bahsa Spanyol atau contoh-contoh yang
lainnya adalah kata gol dari goal, kata futbal dari football, kata lider dari
leader, kata mitin dari meeting. Teknik borrowing ini sama dengan teknik
naturalisasinya Newmark.
Richard (1992:40) menambahkan borrowing adalah kata
atau frase yang diambil dari sebuah bahasa dan digunakan dalam bahasa lain,
misalnya bahsa Inggris mengambil frase garage dari bahasa Francis, al fresco
dari bahasa Italia, moccasin dari bahasa Indian Amerika. Selanjutnya dia
mengatakan bahwa jika kata pinjamannya itu berbentuk kata tunggal maka disebut
dengan loan word. Contoh kata-kata pinjaman bahasa Indonesia dari bahasa
Inggris adalah anus, urine, horizon, diameter, stereo, neutron, dapat dilihat
dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah (2006:8-33).
4. Calque
Menurut Richard (1992:44), calque sama dengan loan
translation atau termasuk jenis borrowing, yaitu teknik penerjemahan yang
menerjemahkan morfem atau kata-kata suatu bahasa kedalam morfem ata kata bahasa
lain yang ekuivalen. Contohnya kata bahasa Inggris almighty adalah calque dari
bahasa Latin omnipotens:omni=all dan potens=mighty, jadi omnipotens menjadi
almighty. Adapun Molina dan Hurtado Albir (2002:510) menegaskan bahwa calque
adalah terjemahan harfiah sebuah kata atau frase asing, baik secara leksikal
maupun structural misalnya terjemahan Normal School dari bahasa Francis Ecole
Normale.
5. Compensation
Molina dan Hurtado Albir (220:510) mengatakan:
Compensation is used to introduce a Source Text (ST)
element of information or stylistic effect in another place in the target text
(TT) because it cannot be replaced in the same place as in the source text
(ST).
Definisi diatas menyatakan bahwa kompensasi
digunakan untuk memperkenalkan unsure informasi atau efek stilistik Tsu
terhadap Tsa karena unsure atau efek tersebut tidak dapat digantikan atau tidak
ada padanannya dalam Tsa. Contohnya kata ganto orang “thee” dalam bahasa
Inggris kuno diganti dengan bentuk penyeru “O” dalam bahasa Francis.
Tsu(E) : I was seekin thee Flathead.
Tsa(F) : en verite c’est bien toi que je
cherce, O tete plate.
Unsure informasi atau efek stilistik yang ada dalam
bentuk kata ganti bahasa Inggris ‘thee’ yang bernilai padanan kuno tidak dapat
digantikan dengan bentuk kata ganti bahasa Francis (tu, te, toi). Makna dari
itu penerjemah mencari penggantinya dalam bentuk penyeru ‘O’ dalam bagian
kalomat tersebut karena bentuk penyeru tersebut memiliki rasa bahasa yang sama
yaitu bernuansa archaic.
Sehubungan dengan ini, Hervey dan Higgins
(1992:37-39) mengelompokan kompensasi kedalam tiga jenis:
1) Compensation In Place
Dalam hal ini mereka menyatakan bahwa kompensasi
ditempat merupakan sebuah teknik penerjemahan yang berupaya menampilkan suatu
efek yang hilang apada bagian tertentu dalam Tsu dengan cara menciptakan ulang
sebuah efek yang sesuai, baik itu terletak pada posisi awal maupun ahir dalam
Tsa. Contoh dari compensation place adalah penerjemahan aliterasi pola bunyi
konsonan [v] dalam bahasa Francis menjadi pola bunyi konsonan [n] dalam bahasa
Inggris serta asonasi pola bunyi diftong [ou] dalam bahasa Inggris sebagaimana
dalam contoh berikut:
Tsu (F) : voila ce que veulent dire less virile
acclamations de nos villes et de nos villages, purges enfin de l’ennemi
Tsa (E) : this is what the cheering means,
resounding through our towns and villages clensed at last of the enemy.
2) Compensation by merging
Kompensasi dengan cara menggabung adalah
teknikpenerjemahan dengan cara memadatkan atau meringkas cirri-ciri Tsu dalam
bentangan yang relative panjang kedalam sebuah bentangan Tsa yang relative
pendek.
Contoh dari Compensation by merging ini adalah
penerjemahan frase yang relative panjang yaitu, cette marquee infamante qui
designe dengan cara dipadatkan atau diringkas menjadi sebuah frase yang
relative pendek yaitu brands…as seperti dalam sebuah contoh berikut:
Tsu (F) : le peche, cette marquee infamante qui
designe la mechante la damnee.
Tsa (E) : sin, which brands a woman as evil,
wicked and damned.
Frase cette marquee infamante qui designe yang
panjang ini bermakna ‘that ignominious stigma/brand which designates’ yang
artinya ‘noda/cap jahat itu yang menandakan’ diterjemahkan menjadi sebuah frase
brands..as yang pendek yang bermakna ‘describe…as’ yang artinya menggambar
sesorang/sesuatu sebagai.
3) Compensation by splitting
Kompensasi dengan cara memecah adalah teknik
penerjemahan dengan cara memecah suatuunsur informasi atau efek stalistik
tunggal dalam Tsu menjadi dua unsure informasi atau efek stalistik yang mewakli
dalam Tsa. Hal tersebut dipilih jika tidak ada kata tunggal dalam Tsa yang
tidak memiliki cakupan makna dalam Tsu.
Contohnya adalah memecah kata benda ‘les papilons’
dalam bahasa Francis menjadi dua kata benda bahasa Inggris yang mewakili yaitu
‘moths and butterflies’. Contoh lainnya adlah kata benda bahasa Francis
‘comble’ yang berarti to fill dalam bahasa Inggris dipecah menjadi soothe or
heal dan approfondit yang berarti to go deeper dipecah menjadi open and probes.
6. Description
Deskripsi adalah teknik penerjemahan dengan cara
mengganti sebuah istilah atau ungkapan dengan sbuah deskripsi bentuk dan/tau
fungsinya. “Description is to replace a term or expression with a
description of its form or/and function.” (Molina dan Hurtado Albir,
2002:510).
Contoh dari deskripsi adalah penerjemahan kata
bahasa Italia Panetto menjadi sebuah deskripsi dalam bahasa Inggris
‘traditional Italian cake eaten on New Year’s Eve’. Mengapa demikian? Karena
dalam bahasa Inggris tidak dikenal istilah atau jenis makanan Panetto sehingga
dianggap untuk menggantikan kata benda itu dengan sebuah deskripsi yang
menggambarkan jenis makanan tersebut.
Menurut Moentaha (2006:77-78), penerjemahan
deskripsi adalah penyampaian makna dari Tsu kedalam Tsa dengan menggunakan
kombinasi kata-kata bebas, yaitu menjelaskan satuan-sauan leksikal yang
mencerminkan realitas spesifik Negara yang satu dengan Negara lainnya, karena
satuan-satuan seperti itu tidak mempunyai ekuivalens. Berikut ini adalah
contohnya;
1. Tsu : ‘cow-creamer’
Tsa : ‘poci yang berbentuk sapi untuk tempat susu’
2. Tsu : ‘nasi tumpeng’
Ta : ‘boiled rice, designed in the shape of cone’
7. Discursive Creation
Kreasi diskrusif adalah teknik penerjemahan yang
berupaya untuk menentukan atau menciptakan sebuah padanan sementara yang
benar-benar diluar konteks yang tak terprediksi.
Contohnya penerjemahan judul film ‘Rumble fish’
dalam bahsa Inggris menjadi ‘La ley de la calle’ dalam bahasa Spanyol.
Sebenarnya, frase “Rumble fish” itu sendiri tidak memiliki kesinambungan makna
dengan frase ‘La ley de la calle’=’line of the street’=jalur/lintasan jalan
yang ramai sedangkan ‘rumble fish’=’ikan gemuruh’.
Disamping itu Delisle dalam Molina dan Hurtado Albir
(2002:505) menambahkan bahwa:
‘discursive creation is an operation in the
cognitive process of translating by which aq non-lexical equivalence is
established that only works in context’.
Definisi tersebut menjelaskan bahwa kreasi diskursif
merupakan sebuah upaya aktivitas dalam proses kognitif penerjemahan yang
menentukan atau menciptakan sebuah padanan non-leksikal yag hanya berfungsi
dalam konteks. Misalnya frase ‘ideas become cross fertilized’ dalam bahasa
Inggris diterjemahkan menjadi ‘le choc des idees se revele fecond’ dalam bahasa
Francis.
8. Established Equivalent
Padanan mantap adalah teknik penerjemahan yang
berupaya menggunakan sebuah istilah atau ungkapan yang dikenal sebagai sebuah
padanan dalam Tsa.
Contoh kasus dari padanan mantap ini adalah
penerjemahan ungkapan bahasa Inggris ‘they are as like as two peas’ kedalam
bahasa Spanyol menjadi ‘se parecer como dos goats de agua’. Teknik ini hamper
sama dengan penerjemahan harfiah.
Tsu (E) : they are as like two peas
Tsa (Sp) : se parecer como dos goats de agua
Mereka sama percis seperti dua tetes air.
Jika dianalisis maka secara literal, kedua kalimat
tersebut diterjemahkan secara mantap mengikuti pola struktur kalimatnya.
9. Generalization
Generalisai adalah teknik penerjemahan yang
menggunakan istilah yang lebih umum atau netral.
“generalization is to use more general or neutral
term”(Molina, 2002:501).
Contoh dari teknik generalisasi ini adlah kasus
penerjemahan ‘quichet’, ‘fenetre’ atau ‘devanture’ dalam bahasa Francis yang
lebih khusus menjadi ‘window’ dalam bahasa Inggris yang lebih umum. Misalnya
‘devanture’ sebenarnya berarti ‘shop window’=’jendelatoko’ bukan
‘window’=’jendela’, tetapi dalam kasus ini akhirnya diambil istilah yag lebih
umum atau netral saja yaitu ‘window’=’jendela’.
Moentaha (2006:62) menambahkan bahwa generalisasi
adalah penggantian kata dalam Tsu yang maknanya sempit dengan kata Tsa yang
maknanya lebih luas. Berikut ini adalah contohnya:
1. Tsu : she was
letting her temper go by inches.
Tsa : dia sedikit demi sedikit kehilangan
kesabarannya.
2. Tsu : when
shot, she was apparently taking awalk.
Tsa : tampaknya dia terbunuh pada saat jalan-jalan.
Frase pada contoh ke-1 go by inces tidak
diterjemahkan menjadi inci demi inci karena didalam bahasa Indonesia tidak
dikenal ungkapan metafora semacam itu, tetapi diganti dengan ungkapan yang
lebih umum yaitu sedikit demi sedikit. Kata shot pada contoh ke-2 tidak
diterjemahka tertembak tetapi diterjemahkan denan istilah yang lebih umum yaitu
terbunu.
10. Literal translation
Penerjemahan harfiah dalam bahasan ini oleh Molina
dan Hurtado dikategorikan kedalam teknik penerjemahan. Teknik penerjemahan ini
mencoba menerjemahkan sebuah kata atau ungkapan secara kata per kata.
Yang dimaksudkan dengan kata demi kata ini bukan
berarti menerjemahkan satu kata untuk kata yang lainnya, tetapi lebih cenderumg
kepada menerjemahkan kata demi kata berdasrkan fungsi dan maknanya dalam
tataran kalimat. Berikut adalah contoh yang dikemukakan oleh Bosco (2008:1)
Tsu (Sp) : el equipo experimentando esta
trabajndo para terminar el informe.
Tsa (E) : the experienced team is working to
finish the report.
Dalam contoh diatas penerjemahan frase equipo
experimentando diterjemahkan sesuai dengan fungsi dan makna masing-masing kata
sesuai dengan struktur frasenya Tsu masing-masing, misalnya menjadi experienced
team tidak team experienced karena struktur frase bahsa Inggris itu MD (
menerangkan diterangkan) yang belawanan dengan struktur frase bahsa Spanyol
(DM) diterangkan menerangkan. Struktur frase tersebut sama dengan struktur
frase bahasa Indonesia, sehingga frase equipo experimentado dapat diterjemahkan
menjadi tim yang berpengalaman.
11. Modulation
Modulasi dalam batasan ini adalah mengubah sudut
pandang, focus atau kategori kognitif yang ada dalam Tsu baik secara leksikal
maupun structural, contohnya dalam penerjemahan kalimat ‘you are going to have
a child’ daripada kedalam bahas Inggris menjadi ‘you are going to be a father’.
Padahal memang kata itu berarti ‘father’= seoraang ayah tetapi dalam kasus ini
kata tersebut diterjemahkan menjadi ‘child’=seoranf anak. Itulah yang terjadi
dalam modulasi karena kasus pengubahan sudut pandang antara orang Arab dan
Inggris berbeda secara kultur walaupun memang logikanya jika kalimat “kamu akan
mamiliki anak’ pada intinya sama dengan kalimat ‘kamu akan menjadi seorang
ayah’.
12. Particulalitation
Partikularisasi adlah teknik penerjemahan yang
mencoba menggunakan sebuah istilah yang lebih tepat dan kongkrit.
‘particularizatin is to use a more precise or
concrete term’ (Molina dan Hartono Albir, 2002:510).
Contoh dari teknik penerjemahan ini adlah
penerjemahan kata bahasa Inggris ‘window’ menjadi ‘quichet’=’jendela toko’
dalam bahsa Francis. Teknik ini merupakan kebalikan dari teknik penerjemahan
generalization. Dari contoh tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa teknik
penerjemahan partikularisasi itu mencoba menerjemahkan satu istilah dengan cara
mencari padanannya yang lebih spesifik atau khusus.
13. Reduction
Molina dan albir (2002:510) mengatakan bahwa
reduction adalah sebuah teknik penerjemahan yang memberangus sebuah item
informasi dlam Tsa, misalnya penghilangan frase the month of fasting untuk
penerjemahan kata benda Ramadhan kedalam bahsa Inggris, karena kata itu ada
dalam bahasa Arab sudah mengandung makna the month of fasting atau ‘bulan
puasa’ sehingga tidak usah disebutkan lagi. Teknik pengurangan ini sama dengan
konsep Omission-nya Vazquez Ayora dan delisle dalam Molina dan Albir
(2002:505). Mereka menyebutkan bahwa “Omision is the unjustifiable suppression
of elements in the SLA”. Artinya bahwa pengurangan adalah pelarangan penggunaan
unsure-unsur yang berlebihan, maka harus dihindari. Teknik ni merupakan teknik
kebalikan dari penambahan. Teknik penerjemahan ini adalah membuang kata yang
berlimpah atau menurut Lyons dalam Moentaha (2006:70) disebut kelimpahan
semantic. Dalam hal ini tanpa bantuan kata yang melimpah itu, isi informasi
dalam Tsu dapat disampaikan kedalam Tsa secara utuh. Perhatikan contoh berikut:
Tsu : just and equitable treatment.
Tsa : hubungan yang adil.
Kata just and tidak diterjemahkan atau dihilanhkan
karena sudh cukup jelas dengan terjemahan kata equitable yang sepadan dengan
kata adil, wajar, pantas dan patu.
14. Substitution
Teknik penerjemahan subtitusi baik subtitusi
linguistil maupun substitusi paralinguistic adalah teknik penerjemahan yang
mencoba mengubah unsure-unsur linguistic dengan unsure-unsur paralinguistic,
misalnya intonasi dengan gerak tubuh dan sebaliknya.
“substitution (linguistic, paralinguistic) is to
change linguistic elements for paralinguistic elements (intonation, gestures)
or vice versa.” (Molina dan Hurtado Albir, 2002:510)
Contohnya adalah untuk menerjemahkan paralinguitik
gerak tubuh dalam konteks budaya Arab, yaitu meletakan tangan di dada dapat
diterjemahkan ke dalam sebuah tuturan ucapan terimakasih, yaitu ‘thank you’.
Kasus ini sering terjadi dalam interpereting.
15. Transposition
Transposisi dalam hal ini adalah teknik penerjemahan
yang mencoba mengubah sebuah kategori gramatikal.
“transposition is change a grammatical category.” (Molina
dan Hurtado Albir, 2002:510)
Contohnya adalah penerjemahan kalimat bahasa Inggris
‘he will soon be back’ diterjemahkan kedalam bahsa Spanyol menjadi ‘notardara
en veir’, yang mengubah adverbial ‘soon’ menjadi kata kerja ‘tardar’ yang
berarti ‘take a long time’ daripada tetap menerjemahkannya kedalam bentuk
adverbial dan menerjemahkan menjadi ‘estara de vulelta pronto’.
16. Variation
Variasi adalah teknik penerjemahan yang mencoba
mengubah unsure-unsur linguistic atau para linguitik yang dapat member dampak
pada aspek-aspek variasi bahsa, misalnya menhubah nada tekstual, gaya, dialek
social, dialek geografis, dan lain-lain.
“varation is to change linguistic or paralinguistic
elements (intonation, gestures) that effect aspects of linguistic
variation:changes of textual tone, style, social, social dialect, geographical
dialec, etc. (Molina dan Hurtado Albir, 2002:510).
Contoh dari teknik penerjemahan variasi ini adalah
memperkenalkan atau mengubah indicator-indikator dilektikal dari
karakter-karakter atau lakon dalam sebuah cerita ketika seseorang akan
menerjemahkan sebuah novel menjadi sbuah pertunjukan drama untuk anak-anak.
Nada dalam hal ini adalah cara menyampaikan pikiran atau perasaan.
Disadur dari berbagai sumber.







0 komentar:
Posting Komentar